بـاذنـك يـاأذن ادّعـوٌ رسـلـتـك(Bi idznika yaa Aadzin adda’u risalatik )

 السلام عليكم 

Manusia adalah makhluk berdimensi, manusia bagian dari alam semesta, manusia tak luput dari keterbatasannya. Diciptakan tentu memiliki tujuan, bagi yang masih dan senantiasa mempercayai adanya Tuhan Sang Pencipta dan Penata alam jagat raya. Namun dijaman yang sudah modern dan ilmu serba mudah, ternyata masih ada juga diluar sana yang menganggap manusia hanyalah produk bumi atau terjadi secara kebetulan saja. Ekses dari cara berfikir yang liar tanpa dibarengi rasa atau tafaqqohu qolbiah yang akhirnya keluar dari batasan kemanusiannya.

Menyalahkan atau mencari Kambing Hitam adalah akibat melupakan dimensi keterbatasan yang berada dalam zat tanpa batas. Keyakinan yang terganggu dikarenakan Fatamorgana duniawiah, meragukan sesuatu yang belum diketahuinya dengan pasti. Menduga-duga dan memperkirakan hasil yang dilihat dan didengarnya lewat begitu saja secara alamiah dianggapnya berfikir dan merasakan, padahal semua itu hanya prasangka yang keluar dari sifat kenak-kanakan manusia yang selalu ingin lepas bebas hingga dia tersadar akibat dari kebebasannya ternyata dia terjatuh, dan terguling dilubang hitam yang berlumpur.

Nyaris yang mempercayai adanya Tuhan Sang Pencipta lagi Menata terikut gaya hidup dan  kehidupan mereka yang apatis, berfikir serba prakmatis akhirnya menganggap dogmatis sebuah kesalahan, padahal adakalanya dogma menjadi jawaban atau setidaknya menjadi sandaran terakhir dalam keterbatasan cara berfikir. Ketika sesuatu tak dapat dibuktikan secara empiris dan kenyataan bukan berarti keberadaan sesuatu itu tidak ada, atau ketika sesuatu yang dipersoal tidak ditemukan secara nyata bukan berarti salah.

Dogmatis dianggap berlawanan dengan kata Universalis, padahal tidaklah tepat, Parsialis yang sebenarnya berlawanan dengan Universalis. Dogma yang berarti sebuah keyakinan seseorang dalam menjalani kehidupannya tanpa harus selalu menyandarkan kepada sebuah nilai-nilai empiris. Bahkan ironisnya lagi kenyataan dianggap harus sesuai  empiris padahal tidaklah seperti itu. Salah satu kesalahannya ketika manusia melihat secara empiris bintang yang jauh terlihat kecil, adakah itu sesuai dengan kenyataannya?, yang kau lihat bukanlah yang nyata, yang kau duga belum tentu sama dengan kenyataannya.

Keberadaan sesuatu yang terlihat secara kasaf mata tidaklah mutlak menentukan keberadaannya, apalagi sampai menafikan dan menganggap keberadaan sesuatu ketika tak sesuai dengan pandangan manusia (empirism). Ragu hal yang wajar, namun harus di-ingat ilmu pasti yang belum di-miliki. Ketika sudah terilmui dengan baik, maka tak ada lagi keraguan, walaupun mungkin tak sesuai dengan empiris dan kenyataan. Kepastian merupakan kesimpulan semua jawaban yang di butuhkan manusia, empiris yang merupakan hasil dari sebuah perjalan fisik dan pengalaman menelusuri alam, belum tentu merupakan jawaban dari sebuah kepastian, apalagi menjadi kemutlakkan.

Berfikir-pun hanya merupakan metode untuk menjalani sebuah proses dalam kehidupan manusia, bukan bersifat mutlak dalam menentukan sebuah jawaban pasti. namun yang penting dan perlu di ketahui: untuk apa dan mengapa serta daya gunanya. Sebagai contoh: Kematian. untuk apa di fikiri? namun sikaplah yang harus diambil dan menerimanya. Menatap bintang matahari diabaikan, Melangkahi bumi kuburan terlupakan.

Dari sejak dahulu manusia selalu saja ingin lepas dari batasannya, ini merupakan unsur desakan dari dalam diri yang memang memiliki dua unsur yaitu: Jasadiah dan Rohaniah, Fisik dan Metafisik, Dunia dan Akhirat, Awal serta Akhir. Ketika semua hal ini dilupakan maka, apapun dan siapun manusianya akan mengalami titik jenuh, bahkan buntu dalam kehidupannya. Kejenuhan dan Kebuntuan ini sudah mulai terlihat akhir-akhir ini. Diluar sana banyak dari kita yang melupakan dua unsur zat yang berada dalam dirinya sehingga mencari kompensasi dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang Keilmuan, Hukum dan Spiritual.

Semua kompensasi ini akan terus berlanjut dan senantiasa tumbuh subur ketika Hidup di-anggap sama dengan Kehidupan, ketika dunia dipandang bak surga di-akhirat. Mengabadikan prilaku yang sebenarnya tidak pernah menerima konsekwensi dari sebuah kehidupan berbeda dengan hidup yang lebih bersifat substansial dan hakiki. Yang sebenarnya tidak perlu wujud namun berusaha di wujudkan, Yang tak memiliki tempat di anggap bertempat dan di tempatkan secara berlebihan.

Biarlah yang rohaniah tetap pada tempatnya, dan jangan pernah di-jasadkan. Begitupun yang nyata dalam pandangan mata manusia tak harus selalu di-jadikan sandaran dan kepastian dalam menentukan sebuah jawaban yang kita ingini. Langit dan Bumi harus selalu berada pada tempatnya, Lautan dan Daratan biarkan berjalan sesuai kodratnya. Tak perlu fikiran dan ilmu apapun dalam menyikapi hal ini, tak guna alasan dan mencari jawaban dalam mengambil sebuah keputusan, Jalani dan Yakinlah, semua ini yang disebut dengan Keharmonisan, Keindahan dan Kebenaran.

Salam untuk semua makhluk ciptaan Sang Kholik Yang senantiasa Melihat dan Menunggu kembalinya kita kepada-Nya.

Author by Fardhie Hantary

 Back to Menu

Fardhie.com © 2008 - 2016