Language

 

Sudah menjadi keharusan manusia untuk selalu bijak dan selaras dengan dirinya dan sosial bahkan lingkungannya. Maka sudah pasti tidak mungkin luput dan terlupakan keberadaannya sebagai makhluk yang mengindikasikan manusia lebih baik dari an’aam atau fauna yang tidak memiliki akal dan qolbu. Oleh karena itu menjadi pentinglah untuk mengenal dan memberdayakan komponen yang ada pada anfus atau diri kita agar tepat sasaran dan berdaya guna sebagaimana mestinya komponen tersebut bekerja. QS Al-A'raaf[7:179] "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi. Itulah ciri orang-orang yang lalai."

Tugas manusia untuk bisa memberdayakan setiap komponen pada dirinya menjadi lebih baik dan bekerja sesuai dengan maksud keberadaannya yang sering kali luput dan dianggap sepele bahkan tak dianggap penting sepenting kehidupan ini berjalan. Banyak manusia yang hanya menjalankan atau dijalankan oleh kehidupannya tidak pernah menggunakan akalnya bekerja dengan maksimal, hanya bagian terkecil dari saraf luar otak manusia sebagaimana insting naluri kemakhlukan semata, nyaris tak berfungsi akal dan qolbunya disaat menjalankan rutinitas yang pada dasarnya amat sangat memerlukan kesemua komponen anfus kita bekerja. QS Al Furqaan[25:44] "apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau menggunakan akalnya?. Mereka itu tidak lain seperti binatang, bahkan mereka bisa lebih sesat jalannya dari binatang."

Kalau hanya mengandalkan insting naluri kemakhlukan saja apa bedanya dengan binatang atau fauna ( an'aam )? sebagai contoh dalam hal makan ( baca QS 80:24 ) dan bekerja sehari-hari, binatang juga makan dan bekerja sesuai kebutuhannya sehari-hari. Lantas dimana bedanya atau apa yang membedakan manusia dengan hewan? Bergaul dan membutuhkan pasangan, hewan juga sama, apalagi mati-matian berusaha hanya untuk memiliki rumah dan makan, binatang juga makan dan miliki tempat tinggalnya masing-masing. Siapa bilang melihat dan mendengar dengan baik lagi tepat adalah pekerjaan mudah!, kalau memang mudah tentulah akal memiliki daya nalar yang tepat alias tidak tabrakan atau kontradiktif sebagaimana layaknya saat kita berjalan kaki yang satu didepan dan yang satu laginya dibelakang menopang, begitu pula saat tangan diayunkan terlihat keserasian yang indah tidak saling mendahului. Persaingan kehidupan dijadikan alasan manusia untuk menjalankan kehidupannya maka binatang juga memiliki persaingan, tak ada bedanya dengan manusia. Apalagi bangga dan membanggakan sesuatu yang ada pada diri, binatang juga punya.

Inilah kehidupan manusia yang dahulu belum mendapat pengajaran dan pembelajaran ( jahiliyah ) Akhir-akhir ini kehidupan manusia kembali ke masa tersebut akibat akal yang tak memiliki ilmu yang benar ( haq ) dan hati yang tak bernuansakan ukhrowiah. Seakan hidup hanya dunia semata yang lama-kelamaan menjadi seperti an’aam. Berlomba dan berusahapun keluar dari batasannya, belajar dan mengajar dijadikan ajang menaikan status predikat dan identitas diri hingga menjadi istakbar dalam hidup dan kehidupannya. Tak membiasakan diri untuk menyimak dengan baik sebelum menyampaikan, tak mengilmui dengan pengalaman yang sesuai keberadaannya. Menjadikan pengalaman orang lain andad dan hujjah untuk egonya. Membodohi diri dengan cara mencari kambing hitam atau dalih mencontoh, atau menyesuaikan hidup konon katanya.

Banyak kehidupan manusia seperti ini dijadikan contoh sebuah kegagalan dan kehancuran yang berakibat fatal bagi dirinya sendiri bahkan lingkungan yang akhirnya manusia seperti ini dijadikan bahan bakar oleh perjalanan waktu kehidupan itu sendiri dan kenisbian dari sebuah tatanan budaya yang semu basa-basi atau sia-sia. Dijadikan robot atau budak hawa nafsu, egosentrisme insaniah yang bersifat fujuro dan kafuro. Contoh dari Qur’an Surah: Huud[11:48] Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami untukmu dan untuk umat yang bersamamu. Dan ada juga umat-umat yang bersenang-senang (sebatas dunia saja) akhirnya merekapun mendapat azab yang pedih.”

Pernahkah kita berfikir bahwa umat-umat tersebut diatas adalah umat yang pernah menerima ilmu dari rosul atau nabinya, bahkan hidup bersama-sama / berjema'ah dengan para morobbi mereka yaitu rosul dan nabi saja! bisa salah kaprah dalam menjalani kehidupannya dan merubah pola hidupnya yang semula telah di hidayahi seperti contoh kaum nabi Nuh ( bani rass ) atau kaum 'Aad umatnya nabi Hud, begitu pula umatnya nabi Sholeh kaum Tsamud dan masih banyak lagi, yang kesemua mereka selalu di ajarkan dan di dampingi oleh rosulnya. Lantas bagaimana pula umat manusia saat ini yang hanya bermodalkan peninggalan-peninggalan sejarah atau  qoshosh dan ilmu yang sudah tak lagi dibimbing langsung oleh nabi atau rosulnya? ini PR dari semua individual manusia untuk selalu cermat dan takwa dalam mempelajari segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Tidak cukup bermodalkan pendapat orang lain siapapun dia dan tidak cukup hanya sekedar melihat, mendengar apalagi tidak secara langsung.

QS Al Qashash[28:78] korun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta kerena ilmuku, Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat darinya, dan lebih banyak memiliki harta? Tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa tentang dosa-dosa mereka.”

QS Ar Ruum[30:9] “Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu bahkan lebih kuat dari mereka dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rosul-rosul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata (bayyanis-tabayyun-bayyinah). Maka Allah tidak pernah berlaku zhalim terhadap mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.”

Belajarlah dari kasus hidupmu dan sejarah orang-orang terdahulu agar nalar dan potensi akal bekerja dengan baik, membiasakan diri untuk menyatu dengan semua komponen dan alam agar kepekaan hati terbuka dan sensitifitas anfus menjadi etis dan estetis ( hasanah ) lagi tepat. Tak perlu menuntut orang lain dalam menjalani hidup juga tidak perlu prasangka dan asumsi dalam menyikapi semua urusan dan persoalan, sebab itu hanya berujung pada kesia-siaan tak bernilai dan tidak menjadi tolak ukur dalam membina diri dan memperdayakan komponen yang ada pada anfus kita.

Salam untuk kita semua manusia yang berakal dan berakhlak.

Computerizeb by Fardhie Hantary

 

Back to Menu

 

Fardhie.com © 2008 - 2019