Aku berlindung kepadaMu dari Perkataan Dustaku, dan aku Mohon Ampun padaMu dari ke Bodohanku.
Saya ingin mengajak kita sejenak memberikan waktu untuk mengkondisikan diri dalam wahana Kontemplasi dan Meditasi. Disini saya ingin berbagi cerita dan fenomena tentang krisis dunia saat ini terhadap sosok seseorang yang bisa dijadikan Pemimpin / Khalifah terhadap tatanan sosial budaya manusia, baik secara bentuk sekala kecil maupun besar (Negara).
Silih bergantinya manusia di dunia ini yang menganggap dirinya mampu untuk menata dan memimpin sebuah Negara atau apapun itu, seakan akan hanya mimpi bagi sebahagian umat manusia di belahan bumi yang fana ini. Mengapa demikian! sebab kenyataannya hanya tinggal program dan angan-angan. Lihat saja berapa banyak pula kegagalan dan kehancuran suatu tatanan hanya di akibatkan Pemimpinya. Lagi-lagi pupuslah sebuah harapan akan munculnya sosok seseorang yang akan dijadikan panutan dalam memimpin. Apakah yang menyebabkan pemimpin tersebut gagal? atau apakah kendala yang mengakibatkan tidak berjalannya suatu system? Tentu saja penyebab atau faktor yang bisa menggagalkan cita-cita tersebut, salah satunya adalah. Tak jelasnya sebuah harapan yang akan dijadikan program. Tak adanya standard yang jelas terhadap berjalannya suatu system. Tidak mampunya seseorang yang berusaha untuk di tutupi. Bibit dan bobot seseorang juga sangat menentukan bisa dan tidak terwujud nya kepemimpinan tersebut. Jujur saja sampai saat ini saya masih bertanya apa dan bagaimana Standard kepemimpinan di seluruh dunia ini. Mengapa saya katakan demikian, sebab mungkinkah dalam satu profesi atau bidang bisa untuk di pimpin oleh banyak orang? atau bisakah satu orang tersebut menjalankan semua program-program nya seorang diri? Contoh tak berjalannya kepemimpinan bila satu rumah tangga ada dua pemimpin biar itu bapak dan anak, apalagi ada dua bapak didalam satu rumah tangga, bisa jadi berantakan rumah tangga tersebut. Contoh yang sangat ringan, di saat kita sedang menjalankan sebuah kendaraan (Mobil) Bagaimana jalannya mobil tersebut bila yang mengendarai ada dua pengemudi di dalam satu kemudi? Maka begitu pula Negara-Negara yang ada diseluruh bumi ini. Satu keberhasilan Negara bila program-program nya masih berjalan pada satu azas dan standard begitu juga layaknya Pemimpin yang baru harus mampu selaras dengan Pemimpin yang lama, Karena bila tidak maka lagi-lagi program akan tinggal program dan manusianya yang akan dijadikan Pemimpin hanya akan tinggal Obsesi semata. Siapapun pemimpin tak akan pernah bisa dilepaskan dari ide-ide dan gagasan yang akan dia jadikan program demi terwujud nya cita-cita. Ide yang biak tentu berangkat dari kesadaran dan mempedulikan akan perubahan terhadap sesuatu yang positif. Begitu pula suatu gagasan layaknya hanya akan bisa dijalankan bila tidak gegabah dan diluar kendali dirinya. Rasa percaya diri juga perlu dibangkitkan asal saja tidak melebihi kemampuan dirinya. Masih banyak lagi tata cara dalam menjalankan suatu program agar konsisten eksistensi nya seseorang dalam memimpin. Lantas bagaimana pula bila ada seorang Pemimpin yang berjalan dengan kemauan dan caranya sendiri? bisa saja, asal masih sejalan dengan yang di pimpinnya. Tentu ini adalah cara yang sangat tidak lazim, bila dijalankan dalam tatanan sosial budaya manusia. Sebenarnya siapapun manusia memiliki bibit, dan bobot kepemimpinan di dalam dirinya. Jadi bukanlah hal yang aneh atau sulit untuk dicari bila saja manusia masih sadar diri. Yang saya maksud sadar diri sini adalah sensitivitas akan setiap suara hati dan Esensi Substansial seorang makhluk.
Computerizeb by Fardhie Hantary
Fardhie.com © 2008 - 2010