Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan litsanku, dan aku mohon ampun yaa Ghofur dari perkataan yang dusta.

Waktu akan senantiasa berjalan, bumi terus mengitari matahari, tahun demi tahun terus berlalu, itulah aturan alam yang ada dari semenjak bumi ini tercipta, aturan tersebut telah baku dan dijadikan acuan dalam kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Keteraturannya yang baku ternyata masih saja dipandang oleh sebahagian orang merupakan faktor kebetulan tanpa harus ada yang menata, kemutlakan alam semesta dianggap orang hanya sekedar rekayasa dari alam jagat raya. Sebagaimana mereka menganggap terjadinya ledakan besar hanya faktor kebetulan tanpa ada campur tangan Sang Penata (Al-Kholiq).

Misterinya dijadikan alasan untuk menganggap alam beserta isinya sudah ada begitu saja, bahkan ironisnya lagi, disebabkan mata rantai kehidupan yang telah hilang dianggapnya hujjah untuk mendukung dugaan dan prasangkanya menjadi benar. Padahal jauh sebelum mereka menduga misteri alam jagat raya, masih ada misteri kecil yang terlewatkan olehnya, yaitu susunan saraf dalam tubuhnya, keharmonisan setiap komponen yang ada pada diri manusiapun dianggapnya bukan jawaban.

Pengulangan demi pengulangan dalam kehidupan tidak membuatnya terhenti dan mencoba merenung dan menjawab mengapa pengulangan tersebut bisa begitu teratur? Atau sekedar berfikir dan menalar mengapa tetap sama tidak bergeser dari sejak manusia pertama diciptakan hingga ke akhir dari episode kemanusiaan ini ada? Ataukah memang telah tertutupnya mata hati untuk menyadari dan memahami betapa semua itu memang ada faktor lain yang turut campur dalam kehidupan manusia?.

Haruskah dijadikan alasan kehidupan sosial manusia maupun makhluk lain dibumi ini yang terlihatnya cacat, atau tak sesuai dengan harapan pribadi dirinya bisa untuk diambil menjadi kesimpulan yang salah? Atau menyalahkan pihak lain, lantas cara seperti inikah yang dikatakan benar? Lalu menafikan aturan Sang Maha Penata, bisakah itu dikatakan adil? Bagaimana bisa dikatakan adil jika semuanya menurut kehendak pribadinya sendiri? Bagaimana mungkin bisa terlihat oleh matanya ketika dia sendiri menutup mata terhadap sesuatu? Bukan kesalahan pihak lain atau sesuatu yang ada didepan matanya, melainkan dirinya sendiri yang tidak menggunakan komponen dalam dirinya untuk bekerja dengan baik.

Pelajaran demi pelajaran dalam hidup akhirnya mengarahkan seseorang menjadi makhluk lain, personality yang sudah keluar dari keasliannya membentuk pemahaman dan ideology yang keliru, bisa membuat semua hidup dan kehidupan ini kacau balau, seakan lenyap dari pandangan, membuat yang benar menjadi salah, dan menafikan segalanya. Akhirnya sikologis atau personality seperti ini akan membentuk budaya baru, membangun kehidupan sosial yang diingininya dan menguasai seluruh wilayah yang disinggahi bahkan bumi inipun akan dikuasainya secara mutlak.

Siapapun manusia pasti  memiliki dimensi, ekses dari pertemuan dua dimensi yang berbeda berada dalam satu tujuan atau berusaha sinergis, serasi dan harmonis. Tentu bukanlah hal yang mudah, terkadang konsekwensinya banyak menimbulkan konflik internal maupun eksternal. Oleh karena itulah manusia dianggap terbaik dan lebih terhormat dibanding makhluk lainnya yang juga punya kehidupannya sendiri. Namun ketika dimensi yang berbeda tersebut dapat disatukan dan meredam sekecil mungkin ekses dari pertempuran dua dimensi, maka bukan saja dirinya bahkan orang lain dan seluruh bumi bisa terefleksi oleh hasil buah capaian seorang manusia yang berjuang dan melawan egoisme (hawa) yang merupakan musuh terbesar seseorang.

Tentu sudah merupakan hal primordial jika kita harus mampu mengarahkan dan menata diri untuk bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Tidak perlu alasan apapun untuk hal ini, tidak guna ideology baru untuk memahami hal ini bukan? Lantas mengapa menganggap semuanya salah, serta menyalahkan hukum alam yang kausalitas atau aturan baku dari Sang Maha Pencipta?  Fenomena yang terjadi bukanlah acuan untuk dijadikan standard mutlak dalam menentukan sikap, sebab hal sangat berpengaruh pada psikis seseorang, baik wadah tersebut maka baiklah yang dihasilkannya, sedikit saja kebocoran pada tempayan maka air akan merembes keluar, hal inipun sudah difahami oleh seluruh manusia dibumi.

Bukankah jauh-jauh hari Sang Maha Aku (Tuhan) sudah memperingatkan makhluknya untuk senantiasa melindungi dan menjaga satu dengan lainnya. Inipun bukan perintah yang harus dirontai, sebab tidak ada salahnya bahkan akan lebih salah lagi ketika kawanan semut tersebut membangun sarangnya harus sendiri-sendiri, bagaimana semut bekerja sama begitulah manusia dalam kehidupan sosialnya. Hal inipun semua orang mengetahuinya. Lantas yang mana lagi alasan untuk dijadikan sandungan dalam kehidupan ini? Atau inilah masanya yang dikatakan sang Khataman Nabiy kepada umat beragama seluruhnya, sebab Muhammad (selawat salam untuknya) datang untuk seluruh umat manusia dibumi tanpa terkecuali seluruh isi bumi inipun ikut didalamnya, begitupun langit.

Maka ketika diabaikan perkataan, pesan dan dakwahnya, atau dengan sengaja disia-siakan maka: “Allah Yang Mengutusnya akan memberikan perhitungan untuk memutuskan siapa yang menjadi bahan bakar Neraka kelak.”

Kalau saja kita mau merenungi dan menatap jauh kedalam setiap inti dari semua hal, maka akan kita ketahui inilah dia waktunya. Tidak ada tempat berlindung lagi, tidak berlaku alasan apapun sebab sudah ditutup oleh-Nya, sudah diberikan peluang untuk manusia, maka yang tinggal adalah Melihat dan Menilai, Siapa yang berhasil dan siapa yang gagal, Siapa yang menjadi pemenang dan siapa yang menjadi pecundang

 Author by Fardhie

اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور

Allah Maha Mengilmui segala dzat dihati

Back to Menu

Fardhie.com © 2008 - 2016