Language

 

BANJIR BUKAN BENCANA

 

Banyak manusia mengatakan Air yang melimpah dari daratan tinggi (Gunung, Langit) menuju dataran rendah dikatakan manusia Banjir, Mungkin istilah ini masih bisa ditolerir, namun bila harus dikatakan Bencana, jelas sangat tidak relevan dan kesalahan besar, coba anda bayangkan bila bumi harus kering kerontang, begitu pula bila sungai dan lautan hanya dipenuhi bebatuan tanpa adanya air yang mengalir. Ketika bumi mengalami kekeringan manusia mengeluh, ketika jumlah Air banyak manusia juga mengeluh dan mengatakannya Bencana. Lantas haruskah Bumi ini dan Air memperdulikan perkataan manusia yang tidak pernah mau mengerti dan menyadari apa yang dikatakannya. Bila anda seorang pengambil keputusan dalam sebuah perusahaan atau memimpin suatu komunitas, jika anda harus mengambil keputusan dan harus mempertimbangkan orang yang belum tentu mengerti maksud anda, bahkan bisa jadi salah dengan maksud yang kita inginkan, apakah masih kita pertimbangkan? Begitulah bumi ini juga punya keputusan yang harus dia jalankan tanpa harus terlalu banyak mempertimbangkan manusia yang hobinya senantiasa mengeluh dan memprotes apapun yang tidak sesuai keinginannya. Maka cobalah untuk mengerti jika Air dibumi ini harus mengalir dan terus mengalir, sebab itulah tanggung jawabnya dan itulah porsinya sebagai makhluk yang juga memiliki kepentingan sama seperti manusia. Jadi jika anda masih mengatakan Air yang mengalir merupakan Banjir dan Bencana, sebaiknya pikirkan itu atau lebih baik diam dan jangan berkomentar. Sebab komentar anda tetap akan sia-sia dan tak berguna. Kalaupun harus kita hitung menghitung kerugian yang diakibatkan Air yang melimpah ruah, mari kita paparkan satu persatu ekses ataupun kerugian yang konon dikatakan orang. Apa ekses yang diakibatkan Air melimpah ruah? Saya yakin anda pasti punya jawaban, namun coba anda pahami Jawaban saya" Ekses yang paling kecil adalah tempat tersebut lembab dan basah. Kalaupun dihitung kerugiannya pasti pemborosan sebab jumlah Air sudah melewati batasnya. Lantas dimana dan apa kerugian yang di alami manusia? Kehilangan materi" Kehilangan tempat tinggal" atau mungkin kehilangan nyawa" apa hubungannya? Dimana kaitannya? Bukankah semua kehilangan ataupun kerugian tersebut diakibatkan kita sendiri yang tidak mau cermat dan awas terhadap sebuah perubahan. Mengapa disaat Air melewati tempat tersebut anda tidak bergeser dari tempat duduk anda, mungkin anda beralasan kalau anda dan keluarga sedang asyik tertidur, atau mungkin anda marah kepada Air yang telah mengakibatkan salah satu keluarga anda telah tiada, coba anda pikirkan bahwa kelurga anda dan diri anda sendiri bisa hadir kebumi ini, bukankah diakibatkan jasa Air tersebut? Begitu kita merasa kehilangan apakah sudah tepat, atau kita coba mengurangi nilainya, Bagi saya kehilangan tersebut salah, sebab itu masih nilainya Impas " (Dari yang tiada Pernah berada dan Kembali menjadi tidak ada) Bukankah keesokan harinya menusia mengadakannya lagi? Yang sudah pasti membutuhkan bantuan Air kembali. Nah sekarang coba kita hitung ekses yang dibuat manusia terhadap Air. Setiap saat dan setiap hari manusia terus menerus mengkonsumsi Air, begitu Air tersebut menipis dan habis,bahkan hilang dari bumi ini, apa yang bisa anda buat? atau apa jasa anda untuk menghadirkan Air? Nothing.

 

Relations This Article:  A1articles  Articlesbase  Articlealley  Goarticles  Spiritualteachers.proboards

Computerizeb by Fardhie Hantary

 

Back to Menu

 

Fardhie.com © 2008 - 2011