بــســم الله الـرحـمـن الـرحيـم

 

Awal mulanya manusia adalah umat yang satu “ummatan wahidah” seiring waktu dan perkembangan budaya lalu mereka berselisih, berpecah-pecah “tafarroq” dalam setiap urusan dan persoalannya, baik dalam urusan individual dan kelompok. Setiap kali datang ujian atau soal dan urusan yang harus dijawab, diselesaikan manusia selalu memperdebatkannya yang berujung pada perpecahan diantara mereka sendiri dan orang banyak. Perselisihan sekalipun bukanlah ancaman dan alasan untuk memandang sebuah hal menjadi kehancuran. “tafarroqo” atau perpecahan satu akar kata dengan "farooqo-furqoon"  Pemisah atau Pembeda. Sementara perselisihan atau berselisih sebenarnya pemakaiannya khusus diambail dari "ikhtilafa-khilafa" satu akar kata dengan "kholafa". Inilah tema yang akan saya bahas. Seiring semakin membudayanya ikhtilaf dan tafarroq dan perbedaan sudut pandang (ideologi).

Berselisih atau perselisihan ( ikhtilaf ) sebenarnya hal yang biasa selagi masih dalam garis ketentuan seperti berselisih dalam hal makanan, kesukaan akan sebuah warna.semua ini memang harus sesuai dengan tempat dan budayanya masing-masing. Berbeda sekalipun warna kulit tidak perlu jadi persoalan, justru harus berbeda agar menambah keindahan: Putih, Hitam, Kuning dan lain sebagainya. Sebagaimana berjalannya rotasi bumi ini yang memang harus berganti dan pergantian. Kalau tidak maka tidak akan tercipta sebuah peradaban dan musim baik di-Barat dan di Timur. Adakah yang salah pada hal ini? Lantas mengapa dipermasalahkan? manusia dan umat beragama menjadi bodoh dan seakan agama itu berjalan keluar dari ketentuan Sunnahtullah salah satunya nature's of law atau hukum alam. Tidak semua hal dalam kehidupan manusia harus dipandang berdasarkan Sunnah para Nabi / Rosul. Begitu pula dalam setiap teks-books maupun konteks yang ada dalam setiap Kitab umat beragama seluruhnya.

Siapapun manusia, dimanapun dia berada, maka sudah menjadi kebiasaannya untuk beradaptasi dalam menjalani kehidupan. Maka sudah harus difahami oleh kita semua ekses pasti terjadi akibat tentu selalu ada, itulah konsekwensi dalam menghadapi ujian demi melanjutkan kesinambungan kehidupannya dibumi yang telah diwariskan Sang Pencipta (Al-Kholik / The Creator) untuk seluruh makhluknya yang dikuasai dan dipimpin oleh umat manusia baik yang di Timur dan Barat (masyriq wal maghrib). Ketika Sang Maha Aku berbuat maka seluruh makhluk hidup akan kebagian rahmat-Nya, kasih-Nya dan perhatian-Nya. Maka kalau Sang Pencipta ( Al Kholik ) sendiri saja berbuat berdasarkan sunnah yang telah Dia ciptakan sendiri, maka apalagi manusia? bahkan nyaris dari semenjak bumi ini tercipta hingga ke-hari ini dan akan datang Sang Pencipta bertindak sesuai aturan yang telah Dia tetapkan sejak awal mula Dia merancang dan menggagas semua makhluk, baik yang di-langit maupun yang di-bumi, dari wadah terkecil hingga wadah yang besar dan sangat luas.

Qur'an surat Al Baqarah[2] ayat 115:  “Milik,Kepunyaan, atau Hak Allah Timur dan Barat maka: kemanapun manusia menghadap disitulah wajah Allah.  Sungguh ilmu / science Allah teramat luas.”

Ayat ini menggambarkan keluasan jangkauan ilmu yang dimiliki oleh Tuhan Sang Pencipta semesta alam. Tak ada perbedaan dalam ilmu-Nya baik itu yang di Timur dan Barat semuanya wilayah dijangkau oleh matahari dan bulan, semua dilalui siang dan malam, semua mendapatkan rahmat-Nya dalam curahan hujan. Dia tidak membedakan hujan dalam setiap wilayah yang dicurahkan, Dia tidak mengedepankan ego-Nya sebagai As Salam (Pemilik Islam) atau Al Addin Pemilik system / Agama. Dan ilmunya bisa dirasakan seluruh makhluk baik yang didarat dan dilaut, begitu juga seluruh manusia.

Maka ketika Dia mengutus Nabi / Rosul kepada umat manusia tentulah harus mempu menjangkau ilmu-Nya yang luas dan rahmat-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya. Maka sudah menjadi kewajiban Para Nabi dan Rosul mengajarkan, mendidik dan membimbing umat manusia kearah yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya , orang lain dan bumi. Tak ada perbedaan ajaran,ujaran dan pendidikan para Nabi atau Rosul yang telah di utus oleh Allah Al Mursil (Yang Mengutus) sebab ilmu mereka dan ideologi serta daya nalar mereka terpagari dengan Kitabullah dan Sunnah-Nya. Tidak dangkal juga tidak melampaui, ruysdan para Nabi adalah hidayah dan sesuai porsi dan proporsinya tanpa harus melanggar hukum alam / nature's of law yang telah ditetapkan oleh Sang Penciptanya.

Qur'an surat Al Baqarah[2] ayat 136: Katakan: “Kami beriman kepada Allah dan apapun yang diturunkan-Nya kepada kami, dan yang diturunkan-Nya kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub serta anak cucunya, dan kepada Musa, Isa, begitu pula kepada para nabi yang datang dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan / membanding-banding (firqoh-taffaroq) seorangpun diantara para Nabi / Rosul, oleh karena itu kami tunduk patuh (muslim)”.

Maka siapapun manusia yang tunduk patuh kepada perintah atau ‘amrun dari Tuhan yang telah tertera pada semua kitab yang pernah Dia ajarkan kepada Musa (taurat), Daud (zabur), Isa (injil) dan kepada Muhammad (Al Qur'an). Semua kitab inilah Kitabullah, semua kitab inilah petunjuk, pedoman dan pemandu seluruh umat beragama, dengan Kitabnya pula umat beragama selayaknya memutuskan setiap hal tanpa terkecuali.

Lantas dimanakah kesalahan dan perpecahan bisa terjadi? Atau mengapa seluruh umat beragama menjadi bodoh dan memutuskan berdasarkan egonya dan sesuka hatinya? Semua itu kembali ke-diri dan lagi-lagi hawalah yang berperan untuk membutakan manusia, membelokan yang lurus dan mengkaburkan kebenaran serta hati semua manusia. Lama kelamaan hawa tersebut mengubah kita menjadi pemuja dan pengikut syaithan atau iblis yang jauh hari telah di ingatkan oleh Tuhan Pencipta Allah Al Kholiq yang telah membentuk rupa dan mendesign serta menghadirkan manusia kebumi.

Qur'an surat Al A’aaraf[7] ayat 27: “Hai bani Adam, janganlah kalian terfitnah oleh syaithan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, syaithan telah melepaskan dari keduanya pakaian (libasa) untuk mempelihatkan kepda kedua orang tuamu‘auratnya. Sungguh syaithan dan pengikutnya mampu dan bisa mengindikasimu dari tempat yang kamu tidak bisa mengindikasi keberadaannya. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithan itu wali (auliya) bagi siapapun yang tidak mau beriman”.

Syaithan mampu membisikkan dan mengarahkan manusia dari tempat jauh, dari manapun dia suka, syaithan bisa mendatangi manusia dalam keadaan sadar apalagi tidak sadar, bahkan syaithan bisa masuk kedalam kehidupan manusia baik didalam hati dan pikiran. Ingatlah wahai manusia makhluk ciptaan Al Kholiq, hawa nafsumulah pengikut syaithan yang paling setia, untuk menjadikan seluruh pandangan (ideologi), pikiran dan perasaan kita tercemari olehnya, yang lama kelamaan kita akan menjelma menjadi makhluk baru, makhluk yang kita sendiri akan mewujudkannya. Maka hadirlah dia dengan segala macam atributnya iblis, korin, samiri, ya’juj ma’juj dan dajjal, yang akan mengendalikan hidup serta kehidupan manusia seluruhnya.

Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani awalnya mereka hanya tunduk patuh kepada ajaran nabi Musa dan Nabi Isa, seiring waktu mereka merubahnya, mengada-adakan sesuatu yang tidak baik dan bermanfaat, bahkan menciptakan makhluk yang mampu bersuara seperti layaknya manusia. Membangun sesuatu yang menghacurkan diri mereka sendiri dan mempengaruhi seluruh umat manusia lewat ilmu yang telah diajarkan nabi mereka, yang dimana maksud ilmu itu diajarkan untuk kebaikan diri dan orang lain. Namun lagi-lagi manusia sendirilah yang memuja iblis, syaithan dan dajjal akibat terlalu mematuhui hawa nafsunya dan merubah kebenaran menjadi salah.

Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk mengelak dan mengatakan bahwa setiap kitab yang pernah dinuzulkan / diturunkan Allah, Robb kepada para nabi tidak bisa memberikan penjelasan, tidak bisa menengahi masalah, dan menjawab setiap persoalan. Lagi-lagi sawwala dan ke-'ajulaan yang mengendalikan untuk membuat semua petunjuk, pengajaran yang ada dalam Kitabullah menjadi sirna dan salah. Hakikatnya kebenaran selalu ada, penjelasanpun telah terkompilasi dalam setiap sunnah para Nabi dan Rosul, tak ada penyimpangan pada setiap sunnah mereka, tak ada pertentangan diantara para nabi dan rosul, umat dan setiap pengikutlah yang menyimpangkan dan membuat sirnanya kebenaran dari bumi ( ardhullah ).

Catatan lewat ayat yang tersurat untuk direnungkan:

Qur'an surat An Nahl[16] ayat 63: “Demi Allah, sungguh Kami telah pernah mengutus para rosul kepada setiap umat sebelum kamu, akan tetapi syaithan telah  jayyana / menghiasi setiap amal perbuatan umat tersebut, maka jadilah syaithan mengambil alih diri mereka pada saat itu dan untuk merekalah azab yang pedih.”

Qur'an surat An Nahl[16] ayat 93: “Seandainya Allah mau, pastilah Dia menjadikan kamu umat yang satu (ummatan wahidah) akan tetapi Allah mau (mengujimu) siapa yang sesat diantaramu dan siapa yang telah mendapat petunjuk, Dan sungguh kamu semua akan disoal (tas’alun) terhadap apapun yang telah kamu perbuat.” Ayat ini senada atau sejalan dengan QS 11:118 dan QS 42:8 baca sendiri!

Qur'an surat Fushshilat[41] ayat 25: “Kami telah menetapkan bagi mereka korin yang telah jayyana / menghiasi setiap perbuatan yang ada dihadapan dan dibelakang mereka, maka pantaslah untuk mereka azab pada setiap umat yang terdahulu sebelum mereka baik dari kalangan jin dan manusia, Sesungguhnya merekalah orang-orang  yang khoosir / merugi.” baca juga Qur'an surat 22:67+45:16-18.

Pada hakikatnya perpecahan dan perbedaan terjadi setelah nabi Musa dan Harun diutus Allah kepada umatnya lalu umatnya memfirkoh / taffaqroq setiap amrun dan perintah rosulnya. Begitu pula umat setiap para nabi dan rosul diutus dari masa ke masa, zaman per zaman hingga ke hari ini ke akhir zaman. Oleh karena itu: faqro'uu maatayassaro minal-qur'an / bacalah / indikasilah apa yang mudah dari Al Qur'an, membaca,mengamati,mengobsesvasi diri dan seluruh ayat-ayat Allah yang ada di semesta alam, maka menjadi sangat pentinglah untuk mentartil tardris kata perkata, lafadzh per lafadzh yang ada pada semua Kitabullah hingga tersusun kalimat yang benar yang sesuai dengan maksud ayat tersebut, agar tidak terjadi penyimpangan dan kesalah fahaman, hingga menjerumuskan diri sendiri dan orang lain.

Salam untuk kita semua makhluk Al Kholik yang masih berdiri diatas hudan dan berjalan dengan furqon serta mampu membayan dengan hikmah dan keadilan.

 author by Fardhie ‘abdi Allah.

Back to Menu

Fardhie.com © 2008 - 2018