Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan litsanku, dan aku mohon ampun yaa Ghofur dari perkataan yang dusta.

Ketika rasa Aman dan Nyaman telah hilang dari diri seseorang, dari Rumah hingga Istana, dari Masyarakat hingga Pemerintah, dari Hulu hingga ke Hilir maka: itulah tanda-tanda (ayatullah) sudah di-abaikan, Sunnah pasti berjalan, Alam akan bereaksi, Manusia seluruhnya akan mengalami kekacauan dan huru-hara, bumi berguncang, sebuah peradaban diambang kehancuran, generasi yang fasadun akan tersapu agar lahir generasi yang mampu menciptakan Perdamaian dan rasa Aman lagi Tentram (ishlah) pada dirinya, keluarga dan alam sekitarnya (Qur’an Surat Huud[11] Ayat 88).

  Sudah menjadi keharusan bagi manusia untuk bisa meng-amankan dan menyamankan, mendamaikan dan melestarikan kesinambungan yang merahmati (ishlah), baik individu dan kelompok, perorangan dan global. Menyelaraskan setiap ucapan berdasarkan panduan yang benar, dan meluruskan tindakan yang dilandasi moral kemakhlukan (akhlaqul karim). Memiliki sifat kemanusiaan yang seyogiyanya menyadari bahwa: Sang Pencipta (Al Kholiq) dan makhluk tidak bisa terpisahkan, yang implementasinya di dunia menjadi sarana akuisisi demi hidup yang Sakinah dan penuh Rahmat dari-Nya di-dunia sampai di ukhrowiah kelak.

Saat rasa malu sebagai objeck Sang Kholiq sudah tak lagi menyertai diri seseorang maka: Kehidupan akan mengalami kegelapan (zhulumut). Pandangan hidup yang sudah terbelokan dari nilai-nilai yang haq akan merubah pola pikir dan pola hidup seseorang dibumi ini mengarah kepada makhluk baru yang diluar maksud Sang Pencipta. Yang dimana wujud kemakhlukkan manusia baru tersebut bisa menjadi: Ya’juj dan Ma’juj. Munculnya paradaban manusia Barbarian, dan masih banyak lagi bentuk perwujudan makhluk baru ini ketika kita lepas kendali, dan melupakan fungsi dari setiap komponen diri yang telah diberikan-Nya agar bisa di-daya gunakan berdasarkan kodrat dan ketetapan.

  Tanda-tanda yang sebenarnya selalu ada dan hadir dalam setiap kehidupan manusia baik pada diri sendiri dan lingkungan, serta alam semesta. Semestinya mendatangkan faham yang membentuk akhlak dan personality kita mengarah pada Kebaikan (hasanah), kebenaran (haq) dan kedamaian (ishlah). Tindakan (amal) yang sudah menjadi kawajiban setiap insan untuk senantiasa Adil dan Porsional kepada siapapun tanpa harus memandang suku, kultur dan geografis. Landasan keadilan tersebut merupakan cerminan seseorang yang masih menyadari dirinya hanyalah objeck dari Sang Maha Subjeck yang mengerti fungsi mengapa dia diciptakan dan hadir kebumi.

 Kesalahan manusia abad ini, abad dimana masa fatrahnya kebenaran dan keadilan bila menganggap dan mengharap sesosok akan datang untuk menyelamatkan dan mengatasi setiap persoalan (QS Ar Ra’d[13] Ayat 11=”sungguh! Allah tdk akan merobah apapun yg ada pd suatu kaum kecuali kaum itulah yg mau merobah dirinya sendiri”).

  Sementara yang mengharap melupakan dan mengabaikan kewajibannya sebagi ‘abid yang bertakwa dan senantiasa beriman diatas kebenaran lagi membenarkan. Khayalan yang berkepanjangan bahkan keluar dari raganya lepas bebas liar tak terkendali, mengakibatkan terkuburnya sifat-sifat luhur lagi mulia pada diri insan yang takwim.(QS. At Tiin[95] Ayat 4-5).

Kesia-siaan dan melanggar aturan atau ketetapan yang sudah ditetapkan Sang Kholiq Allah Al-Qodir kepada makhluk-Nya dan kepada seluruh alam, bila kitab-Nya dibentrokkan dengan sunnatullah. Semestinya selaras dan sejalan, sebab ayat-ayat-Nya tak pernah bertentangan dengan hukum alam, kausalita Al-Awal wal Akhir, Al-Zhohiru wal Baathin. Hampir kesemua sifat-Nya telah Dia manifestasikan kepada manusia mulai dari Adam hingga generasi saat ini. Dilangit dan dibumi selalu ada wujud dari rahmat-Nya, selalu memberikan jawaban bagi yang menyoal ataupun yang punya persoalan, senantiasa hadir bagi siapa saja yang damba akan dzat Yang Maha Kekal dan merindukan-Nya.

  Untuk bisa merasakan dan mengakuisisi kesemua manifestasi-Nya sangatlah dibutuhkan: Keperdulian, daya nalar (‘aqal, ulul al-bab) dan sensitivitas rasa (tafaqqohu qolbiah). Sadarilah dan fahami bahwa: Dia qorib terhadap abdi-abdi-Nya, bahkan Dia perduli kepada semua makhluk baik yang dilangit maupun yang dibumi. Semua itu solusi dan jawaban yang sudah tertulis, mulai dari Shuhuf  / lembaran Ibrahim, Tauratnya Musa, Zabur yang ada pada Daud, Injil yang selalu melandasi Isa Al-Masih dan Al Qur’an yang membenarkan kesemua kita-kitab Allah yang telah Dia nuzulkan kepada abdi-Nya nabi penutup yaitu: Muhammad, selawat seiring salam untuk mereka semua para nabi dan rosul Allah.

Apakah yang menyebabkan manusia saat ini teralihkan dan tersihir oleh mataa’ul hayaatad dunyaa, dibelokkan dengan fitnah dan opini / anggapan yang tak jelas, menuruti dan mematuhi hawa atau keinginan / kemauan yang membabi buta dari dalam diri dan dari pihak luar. Jawabannya tidak lain tidak bukan Ilmu yang Haq dan landasan berfikir, merasa dan berkata yang jelas lagi benar berdasarkan pedoman, petunjuk Allah Al-Hadiy.

  Sudah menjadi kepastian dan sunnah kehidupan manusia selalu berulang mulai dari kaum Bani Rasib yang mendustai dan mendurhakai nabi Nuh, kaum ‘Aad yang angkuh dan menyombongkan diri terhadap nabi Hud, kaum Tsamud  yang telah diberi hidayah namun mendustakan nabi Sholeh, dan penduduk negri Aikah yang mengabaikan dan berusaha mengusir nabi Syu’aib, semua kaum tersebut menuju kerusakkan bahkan kehancuran tatanan hidup dan kehidupan seluruh makhluk ardhun. Sebenarnya sikon saat ini sudah mendekati kaum tersebut yang melampaui, melanggar aturan dan mengabaikan peringatan.

Berulang kali Allah Sang Pemberi Hidayah telah mengatakan dan memberi pelajaran, namun sayang sedikit dari manusia yang memahami sesuai tuntunan yang telah termaktub didalam kitab-Nya. Akibat tak mengilmui dengan baik lagi benar, mengkontradiksikan lafadz demi lafadz, meragui perkataan dan pernyataan Al Mutakallim dan lebih memilih ikut perkataan dan pernyataan orang kebanyakan yang semua pernyataan tersebut hanya berlandaskan perkiraan dan prasangkanya saja.

  Qur’an surat Al ‘An-aam ayat 116: jika kamu lebih mengikuti kebanyakaan orang dimuka bumi ini, sesatlah/tersesatlah kamu dari jalan Allah, karena sesungguhnya mereka semua hanya patuh (tabi’) pada prasangkanya (zhon) dan menduga-duga belaka (kharasha, yakhrushun)”.

Bermula dari ucapan atau perkataan yang tak berdasarkan ilmu, kemudian mencoba-coba untuk di-dakwahkan disampaikan dari hasil plagiasi yang niat awalnya bukan karena indzar dan juga bukan sebab busyroh. Terlalu banyak orang yang seperti ini, amat sangat sedikit yang punya rasa malu yang terkesan diam dikarenakan illaab tighaa-a wajhi rabbihil-a’laa (QS 92:20). “Tak mungkin hidup benalu diatas besi”, “Yang bisa menerangi hanyalah yang senantiasa bersinar dalam dirinya”, Yang mampu menjadi hujjah bukan perkataan si-kadzib / pendusta, melainkan orang yang shidiq lagi takwa”.

  Bila kita melihat sikon dunia saat ini, itupun jika mampu menangkap hikmah dibalik kalimah dan peristiwa. Dunia saat ini yang sebenarnya sudah mendekati sunnah kaum diatas tersebut, kaum-kaum yang tak punya rasa malu, kaum yang tak pernah mau bersyukur dan lebih cenderung kearah kufur, selalu menjadal atau mendebat berlandaskan title dan jabatan, bermain-main dalam pernyataan dan bermegah-megah dalam kehidupan, namun teramat sangat mudah melupakan nikmat yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Mungkinkah berjalan diatas bara, bisakah tertampung hujan didaun keladi, kalimat ini mengilustrasikan keadaan manusia dan dunia yang konon katanya modern. Banyak yang menganggap ilustrasi tersebut mungkin-mungkin saja oleh sebahagian pihak, namun yang perlu di-ingat: “Tak ada yang bertahan bila dalam kondisi terpaksa, Tak mungkin tercipta sikon yang aman lagi tentram bila manusianya jahiliyah dan kufur. Tak berguna lima kemulian dunia yang dianggap orang jika sudah ingkar pada nikmat Allah, apalagi sampai berani mengatakan kebenaran walau hakikatnya yang mengatakan tersebut tak mengetahui dan tak sadar terhadap apa yang sedang dikatakannya”.

 Sebenarnya banyak yang bisa ditulis namun penulis merasa tak ada yang lebih baik dalam menyatakan sebuah kalimah yang menjadi peringatan kecuali Kalamullah. Ahsanal Hadits dari Allah yang menjadi petunjuk, pembimbing dan memandu hidup manusia. Akhiirul Kalaam:

 

اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور

Allah Maha Mengilmui segala dzat dihati

 

Author by Fardhie

Back to Menu

Fardhie.com © 2008 - 2016