Language

 

Aqal dan Qolbu adalah sarana atau komponen yang ada pada manusia untuk mengarahkan dan membimbing ke cara dan jalan hidup yang lebih baik dari makhluk sebelum manusia tercipta, jika bukan karena Akal dan Qolbu ini ada maka tidak ada alasan Allah Al-Kholiq menciptakan kita, sebab sudah banyak makhluk sebelum bani Adam yang telah memenuhi alam semesta dan dianggap gagal mengarahkan dan membimbing dirinya apalagi dituntut untuk menjaga dan mewarisi bumi sebagimana yang dimaksud Sang Pencipta semesta alam.

Oleh karena maksud Sang Kholiq untuk melanjutkan program-Nya maka Dia-pun menciptakan makhluk yang spesial dan berakhlak serta memiliki sarana prasana pada dirinya yang jauh lebih mengungguli makhluk manapun yang pernah diciptakan-Nya, makhluk terbaik tersebut tidak lain tidak bukan adalah An-Naas atau manusia. Apa dan mengapa manusia dikatakan terbaik dan sempurna oleh Sang Penciptanya sendiri? Karena komponen-komponen penting pada diri manusia seperti  aqal dan qolbu. Dengan sarana itulah manusia diharapkan bisa menjalani kehidupannya yang lebih baik dan lebih tertata dari makhluk sebelumnya.

Menjadi sangat-sangat pentinglah penataan dan pendidikan yang diharapkan untuk bisa menuntun dan membimbing manusia pada sebuah paradaban yang lebih baik dan lebih tepat guna dan berdaya guna. Mau tidak mau maka sudah menjadi kewajiban individu atau person untuk bisa menggunakan akal dan qolbunya selaras dengan kehidupannya dibumi yang dimana kehidupan dibumi ini menjadi jembatannya menuju kehidupan selanjutnya.

Bisakah manusia menjalani kehidupan tanpa harus menggunakan akal dan hatinya? Tentu saja bisa, sebagaimana bisanya makhluk lain ( an’aam ) hewan dan tumbuh-tumbuhan menjalani kehidupannya yang memang sudah terkodrat untuk senantiasa statis selama-lamanya. Sementara manusia memiliki komponen yang menuntut untuk dinamis dan statis, mono maupun stereo, single bahkan duo oleh karena itulah manusia dijadikan khalifah atau pemimpin atau pengganti yang lebih baik dalam semua bidang dan lini kehidupan.

Demi kesinambungan rasnya atau kelompok ( bani Adam ) bahkan kesinambungan alam dan makhluk lainnya Sang Pencipta sudah membekali kita dengan chip yang dimana chip tersebut bisa mendatangkan petunjuk dan pedoman pada diri kita, begitu pula Robb memerintahkan manusia untuk mengambil  pelajaran, meneliti dan meriset lebih dalam lagi tantang penciptaan alam jagat raya beserta ornament-ornamentnya. Betapa gegabahnya manusia bila tidak bijak menjalankan kehidupannya untuk sadar dan perduli terhadap anfusnya dan tujuan dari terciptanya manusia kebumi.

Gegabah atau tergesa-gesa ( عَجَل ) sudah menjadi sifat manusia QS Al-Anbiyaa’[21:37] “manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.” Begitu pula QS Al-Israa’[17:11] “manusia berdo’a yang jahat sebagaimana ia berdoa yang baik. Dan manusia sudah menjadi sifatnya tergesa-gesa.” .Bahkan sudah menjadi kegemaran atau kesukaan manusia untuk tergesa-gesa baca sendiri QS 17:18+75:20+76:27 ( الْعَاجِلَة ).

Dari data Ayat tersebut bisa kita simpulkan bahwa: Ketergesa-gesaan atau gegabah dan terburu-buru sudah menjadi possessive manusia atau sudah menjadi sifat dan watak setiap insan. Maka sudah menjadi konsekwensi setiap individu harus senantiasa menjaga dirinya untuk bisa terhindar dari sifat tersebut. Sebab sifat atau karakter ini bekerja pada diri dikarenakan akal yang tidak menalar dengan tepat sebelum dikirimkan atau dukhul ke dalam hati yang nantinya hasil olahan data menjadi sebuah keputusan atau ideology yang premise. Sudah bisa dipastikan siapapun manusia ketika segala sesuatu yang terlihat dan terdengar langsung di jadikan keputusan atau pemahaman tanpa melalui proses akal maka pasti keliru dan akan mengakibatkan kebingungan dalam bersikap dan mengambil setiap keputusan.

Berjalan dan tidaknya sebuah peradaban manusia dibumi sangat-sangat tergantung dari kemampuan intellectualitas yang rasionalitas seseorang untuk menalar semua peristiwa diluar maupun didalam dirinya, terhadap semua peristiwa yang pernah terjadi dan sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Banyak sejarah sejak dari zaman per zaman hingga kehari ini diakibatkan kebodohan dan kejahiliyahan kehancuran sebuah paradaban bangsa maupun manusia terjadi dan akan senantiasa terjadi bila manusianya tidak menggunakan akalnya dengan baik. Mana mungkin ada sebuah pemahaman yang kuat yang dimana femahaman ataupun ideologi dihati bisa bertahan dengan baik untuk membentengi manusia dari sifat-sifat fujurnya(QS Asy Syams[91:8]).

Maka berhentilah dari kebodohan atau hijrahkan terlebih dahulu fikiran kita terhadap segala sesuatu yang tidak kita ketahui atau yang belum bayanis atau jelas. Mulailah dengan membangun dan membina diri untuk bisa menjadi kepribadian yang kokoh lagi berakhlakul karim. Berhentilah dari sifat atau watak yang skeptis dan apatis (zhon-yakhrushun) atau prasangka dan praduga semata(QS Al An'aam/6:116). Berhenti dari kemalasan berfikir dan membuka cakrawala untuk menambah wawasan yang baik agar menjadi konsumsi dan nutrisi di otak kita. Bila akal kita telah bekerja dan menalar dengan baik (ulul albab) maka tafaqqohu qolbi pasti menjadi lebih mudah.

Quran Surah Al Hajj[22:46] “maka apakah mereka tidak berjalan di bumi? Padahal diberikan kepada mereka hati yang dengan itu akalnya bekerja atau dengan telinganya dia menyimak apa yang didengarnya? Ketahuilah bahwa yang buta itu bukan daya pandang (abshoor) akan tetapi yang buta itu adalah hati yang ada didalam dada.”

Quran Surah Al Furqaan[25:44] “apakah kamu mengira bahwa mereka semua itu menyimak atau menggunakan akalnya? Mereka tidak lain seperti binatang bahkan mereka lebih sesat jalannya.”

Salam untuk kita semua manusia yang berakal dan berakhlak.

Computerizeb by Fardhie Hantary

 

Back to Menu

 

Fardhie.com © 2008 - 2019