Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan lisanku, mohon ampun pada-Mu dari perkataanku yang dusta

 

Agama adalah sebuah kata benda, yang mudah difahami sedikit sulit bagi yang tak mau mempelajarinya. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa itu Agama?, untuk apa sebuah Agama?. Agama adalah bahasa atau kata sanskerta yang artinya tradisi atau kebiasaan. Dalam istilah jawa ageman dalam arti kebanyakan adalah Pakaian. di-Barat sana mereka mengatakan Religion, dalam bahasa latin Religio, yang kesemua maksud dan ta’rifannya tetap sama. Agama pada hakikatnya berasal atau berawal dari Tuhan Sang Pencipta untuk mengatur dan mengarahkan makhluk yang telah Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri. Namun ada juga Agama yang bersumber dari manusia(bottom-up),  dibuat-buat oleh orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Tuhan Sang Penata hidup dan kehidupan. Agama bisa juga diartikan dengan: system,aturan dan undang-undang, mungkin tidak semua sepakat dengan arti ini(versi penulis). Agama ada untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta demi berjalannya kehidupan dibumi. Banyak bisa dibuat analogi untuk memahami Agama tersebut, seperti contoh yang kerap dianalogikan sebagai Pakaian atau juga analogi lain seperti Jalan/Cara untuk mencapai sebuah maksud dan tujuan. Pada hakikatnya Agama hanyalah sebuah sarana bukan tujuan, bukan akhir dari sebuah perjalanan, bukan target hidup seorang manusia, juga bukan tujuan pengabdian/ibadah/penyembahan seorang pemuja(manusia) kepada Tuhannya. Agama pada saat ini berkembang pesat dan bahkan terkesan liar, banyaknya jenis atau bentuk Agama yang dibuat-buat manusia yang tentunya terlepas dari 4 Agama besar yang ada saat ini, kesemua agama baru yang berkembang pesat itu dikarenakan desakan/dorongan yang bersumber dari dalam diri manusia diakibatkan rasa kepenasaran, rasa ketidak puasannya terhadap kehidupan bahkan hidupnya yang sudah terformat sejak dari sananya. Bila maksud atau arti dari Agama sudah terfahami dengan baik, sebenarnya tidak perlu untuk mencari atau membuat bentuk Agama baru. Jika saja kehidupan manusia dibumi ini terus berlanjut, maka akan terciptalah banyak lagi bentuk-bentuk Agama. Tak sulit untuk menyebutkan Agama, taklah berat memahami arti dari adanya sebuah Agama, namun bukan berarti tuntaslah rasa kepenasaran seorang makhluk yang namanya manusia, bukan berarti terjawablah keinginan seorang hamba kepada Sang Pujaan. Bukan pula menghentikan langkah atau perkembangan manusia untuk selalu membuat-buat Agamanya sendiri. Apalah gunanya sebuah Pakaian jika tak mampu menutupi dan mempercantik si-pemakainya?. Apalah gunanya mengakui kalau Baju/Busana/Pakaian kita lebih cantik atau bahkan lebih mahal dari yang lainnya bila si-pemilik Pakaian tersebut tidak pernah menyukainya?, seperti itu jugalah sebenarnya Agama yang kita anut. Semua orang bisa merasa menerima dengan baik dan benar Agama yang dianutnya, setiap kita pasti membela bahkan mempertahankan dan meyakini Agama yang kita peluk sejak dari lahirnya atau setelah melalui proses. Jika Agama di-analogikan atau di-ibaratkan sebuah Pakaian maka: Coba fahami bahwa setiap Pakaian pasti memiliki asal-usul, memiliki trademark. Jika Pakaian tersebut tidak jelas trademarknya maka apakah masih bisa dikatakan Pakaian?, jawabanya tentu bisa, namun apakah asli?, sebahagian berkata tak penting keasliannya, toh bisa digunakan. Ketika kedua jawaban ini saja untuk menentukan keberadaan sebuah Pakaian maka tidak ada persoalan. Namun ketika diuji kualitas dan kuantitasnya, banyak Pakaian tidak lulus uji, tidak terakui, tidak bisa menembus pasar, disebabkan kalah bersaing dengan merek-merek yang sudah terkenal mutu dan keasliannya. Seperti ini juga menilai Agama yang kita anut jika dianalogikan sebagai Pakaian. Analogi lain ketika Agama dikatakan Jalan/Cara maka: Banyak jalan yang bisa dilalui, namun apakah jalan/cara tersebut sudah jelas arahnya?. Syarat untuk bisa dikatakan Jalan/Cara tentu harus bisa mengarahkan,menunjuki dan membimbing, jika jalan tak jelas arah atau mentok maka bukan jalan namanya, sebab tak mampu memberikan solusi, tak bisa mengarahkan ke-arah tujuan yang dimaksud. Kedua analogi diatas perlu untuk dipikirkan, perlu untuk dicermati dan perlu untuk diriset sebelum Pakaian atau Jalan tersebut kita gunakan dan kita lalui dalam kehidupan yang sementara, yang fana, nisbi dan fatamorgana ini. Jika Agama di-ibaratkan sebuah pakaian, maka pakailah! Sehingga mampu menutupi, melindungi dan mempercantik diri. Jika Agama di-analogikan sebagai jalan, maka jalanilah! hingga sampai ketujuan yang dimaksud, tidak perlu berdebat mempertahankan Agama siapa yang paling benar, yang paling baik. Lebih luas lagi Agama adalah sebuah system tentu harus mampu untuk menata, mengatur manusia hingga apik dan serasi. Jika saja Agama tersebut tidak mampu untuk mengatur dan menata manusia hingga sampai kepada Sang Pencipta yang sesungguhnya maka, Agama tersebut tidak ada bedanya dengan adat istiadat setempat, tidak ada bedanya dengan aturan yang dibuat disetiap Negara. Sementara Agama itu harus mengungguli system,aturan dan undang-udang manapun, jika memang Agama tersebut berawal/berasal dari Tuhan. Agama harus diatas segala peraturan buatan manusia, harus bersifat mutlak, tanpa unsur paksaan. Yang dimaksud mutlak disini ialah: Satu contoh refleksi dari sebuah aturan yang benar. Air, ia akan mencari tempat yang lebih rendah untuk bisa mengalir, sebab takkan mungkin air mengaliri sesuatu yang lebih tinggi atau mendaki. Tidak bisa siapapun merubahnya, kalaupun manusia berusaha membuatnya mendaki atau memancar keatas, maka air tersebut akan tetap jatuh atau turun. Contoh kemutlakan lain: Terbit dan terbenamnya Matahari, tidak akan pernah berubah, walau dengan bantuan tekhnologi apapun. Kemutlakan inilah yang harus ada jika Agama tersebut benar dan bersifat azali yang bersumber dari Tuhan Sang Pemilik, Sang Penguasa diatas segala kekuasaan. Pada hakikatnya ajaran atau agama adalah baik, untuk kebaikan demi mengatur manusia demi membangun mental yang kuat dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan atau tried and tested bagi setiap manusia yang ingin mendapat tempat atau pengakuan terbaik dihadapan Tuhannya. Tuhan itu bersifat mutlak dan pasti, tak berbanding dan tak punya sandingan, oleh karena itu cara,aturan dan ajaran-Nya harus bersifat mutlak dan pasti, sebab Dialah yang menentukan jalan,cara,aturan atau Agama untuk dilalui oleh makhluk-Nya agar mampu membimbing kita hingga sampai kehadapan Sang Panutan, Sang Pujaan tersebut. Dari dulu hingga kini manusia selalu mencari cara terbaik dalam hidupnya, selalu berusaha untuk memperbaiki sikap hidupnya, dari sejak masa Adam hingga kini. Sebenarnya bila perbaikan dan mencari yang terbaik dalam hidup tidak salah kita mencari cara yang terbaik dalam hidup yang sementara ini. Namun bila harus menggantinya, pikirkan dulu, sebab bila Pakaian yang kita analogikan sebagai Agama, haruskah juga kita ganti-ganti?, haruskah setiap tidak cocok kita mengganti Agama?, setiap ada kesalahan selalu berubah mencari jalan dan cara yang lain?. Pada hakikatnya Agama tersebut tidak bisa dianalogikan secara sembarangan, sebab bila setiap ketidak cocokan dalam hidup kita bukan berarti harus mengganti-ganti cara atau jalannya, bisa saja berangkat dari diri kita sendiri yang menyebabkan ketidak cocokan tersebut. Misalnya, selalu merasa tidak puas, selalu mencari kesalahan pada pihak lain, menerima yang enak menurut kita, dan masih banyak lagi penyebab ketidak cocokan tersebut, jadi bukanlah harus berganti dan menukar Agama kita. Ini peringatan untuk kita semua, sebab semakin majunya peradapan manusia yang tak diimbangi dengan kekuatan moral dan spiritual yang baik, maka akan terus bermunculan ajaran,cara bahkan agama-agama baru dalam peradapan manusia. Pada dasarnya agama itu tidak bisa selalu dipaksa apalagi terpaksa untuk menerima agama tersebut, sebab nantinya akan ada ekses seperti penjelasan diatas yang akan berpulang kepada si-pemeluk agama itu sendiri. Sebenarnya setiap kita juga dituntut untuk mengenal, mendalami dan mempelajari bahkan membanding sebelum segala sesuatunya kita jadikan bagian dari hidup kita. Sebab bila sesuatu tersebut bersifat mutlak dan kekal, maka bila salah dalam memilih dan mengambil keputusan akan mendatangkan penyesalan yang mendalam bagi diri kita sendiri , baik didunia ini hingga abadi di akhirat nanti. Agama yang kita anut selama ini yang kita terima dari budaya bukan dari kemauan dan hati kita sendiri, boleh saja untuk direnungkan kembali, boleh saja untuk ditelaah lebih jauh dan memang harus seperti itu, agar bisa keterima dengan lapang dada, dengan unsur suka dan selaras dengan bimbingan Sang Pemilik aturan atau agama tersebut. Jika sudah pada tempatnya masing-masing, jika sudah sesuai aturan-Nya, dan sesuai suka-Nya, barulah kita bisa mengatur diri ini untuk senantiasa terarah, tersinari dan tercerahkan bahkan terperbaharui sikap hidup kita, realisasinya bisa kita berhubungan dan mengaturnya dengan sesama manusia, begitu pula aplikasi dari aturan tersebut haruslah mampu seimbang tanpa melupakan alam disekitar kita sebelum sampai kepada alam yang lebih luas lagi.

اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور

  Salam untuk kita semua yang senantiasa berjalan dan berpegang dengan aturan-Nya.

Author by Fardhie

 Back to Menu

Fardhie.com © 2008 - 2014